Senin, 22 April 2013

peran perawat


BAB I

PENDAHULUAN




A.  Latar Belakang Masalah

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Blora sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran yang sangat strategis untuk menciptakan sumberdaya manusia berkualitas dalam rangka upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan secara menyeluruh, terpadu, merata, terjangkau dan dapat diterima oleh seluruh masyarakat. Dalam kaitannya dengan fasilitas pelayanan kesehatan perawat memiliki peran yang sangat berpengaruh terhadap terciptanya sumberdaya manusia yang memiliki kualitas dan kinerja yang profesional.

Peran perawat di rumah sakit khususnya di Instalasi Rawat Inap sangatlah penting. Perawat merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan di Rumah Sakit adalah tenaga yang paling lama berhubungan dengan pasien. Akan tetapi kinerja perawat masih banyak dikeluhkan oleh pasien dan keluarganya. Hal ini tampak dari banyaknya masukan dari pasien dan keluarganya atau pengunjung tentang pelayanan Rumah Sakit terutama perawat. Kondisi tersebut sangat bertentangan dengan praktik keperawatan yang seharusnya senantiasa meningkatkan mutu pelayanan profesinya, dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pendidikan dan pelatihan sesuai dengan bidang tugasnya (Kusnanto, 2004).

Kinerja perawat saat ini dapat dilihat dari mutu asuhan keperawatannya. Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktek




1


2






keperawatan yang langsung diberikan kepada pasien dengan berbagai tatanan pelayanan kesehatan termasuk rumah sakit dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Asuhan keperawatan yang bermutu adalah pelayanan keperawatan yang dapat memuaskan pasien.
Beberapa literatur telah mengidentifikasikan bahwa kinerja perawat berada pada rentang baik (Amriyati, Sumarni & Sutoto, 2003). Dari literatur lain juga mengatakan bahwa sebagian besar perawat mendapatkan predikat baik meskipun ada beberapa yang mendapatkan penilaian cukup, akan tetapi sudah tidak ada perawat yang mendapatkan penilaian kurang (Edi Yuwono, 2001), akan tetapi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Blora belum pernah dilakukan penelitian mengenai hal yang berkaitan dengan hubungan antara motivasi kerja dengan kinerja perawat. Karyawan akan antusias untuk berprestasi tinggi, asalkan kemungkinan untuk hal itu diberikan kesempatan. Seseorang menyadari bahwa hanya dengan mencapai prestasi kerja yang tinggi akan dapat memperoleh pendapatan yang besar. Dengan pendapatan yang besar akhirnya ia dapat memiliki serta memenuhi kebutuhan-kebutuhannya (Hasibuan, 1996). Hal inilah yang nantinya akan diterapkan pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Blora agar perawat dapat termotivasi dan berprestasi sehingga akan berpengaruh pada kinerja.

Motivasi itu sendiri begitu penting karena dengan motivasi ini diharapkan setiap individu karyawan mau bekerja keras dan antusias untuk mencapai produktivitas kerja yang tinggi (Hasibuan, 1996). Pihak manajemen dalam hal ini adalah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Blora hendaknya berupaya untuk


3






memberikan motivasi kepada perawat karena motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mendorong gairah kerja bawahan, agar mau bekerja keras dengan memberikan semua kemampuan dan ketrampilannya untuk mewujudkan tujuan perusahaan, dalam hal ini adalah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Blora. Karena menurut Harold Koontz (1971) yang dikutip oleh Hasibuan (1996) disebutkan bahwa motivasi mengacu pada dorongan dan usaha untuk memuaskan kebutuhan suatu tujuan. Dengan motivasi yang tinggi diharapkan akan dapat meningkatan kinerja perawat agar lebih terampil dan profesional dalam bekerja.

Pentingnya kinerja perlu mendapat perhatian tersendiri bagi institusi yang memperkerjakan tenaga keperawatan. Fenomena kinerja perawat yang kurang memuaskan tersebut diakibatkan dari adanya kompensasi yang kurang baik dari pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Blora. Hal itu dapat dilihat dari absensi perwat dan kinerja mereka selama menangani pasien. Fenomena tersebut membuktikan masih kurangnya motivasi perawat dalam bekerja hal itu disebabkan oleh kurangnya kompensasi yang didapat oleh perawat. Kompensasi tersebut dapat berupa pendapatan finansial perawat, fasilitas rumah sakit, dan hubungan kinerja antar sesama perawat yang terjalin dengan baik. Dengan adanya kompensasi tersebut maka akan mendorong motivasi perawat untuk bekerja lebih baik dan kinerja perawat itu sendiri akan meningkat

Selain itu, juga dapat dijadikan bahan evaluasi bagi institusi tersebut untuk membenahi hal-hal yang kurang, mengingat kinerja seseorang dapat berubah seiring dengan perubahan keadaan yang ada, sehingga pada akhirnya perawat dapat melaksanakan tugas, peran dan fungsinya secara optimal sesuai standar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar